Senin, 02 Juni 2025

CERBAFA | Podcast & Artikel

🎙️ CERBAFA

Podcast | Musik | Artikel Edukatif

Selamat datang di CERBAFA

Platform edukatif untuk kamu yang ingin berkembang ✨

© 2025 CERBAFA | Daffa Nurdiansyah 💙

Rabu, 25 September 2024

Mereka Manusia Yang Tak berkaca

 Malam hiruk pikuk dengan dunia yang penuh warna. Bagi sebagian mereka dunia memang ladang untuk bahagia, bermain layaknya taman bermain, tertawa layaknya permaslahan hidup yang tak pernah ada. Namun bagiku, merekalah permasalahan hidupku. Tidak asing lagikan jika ku sebut kata mereka? Ya, mereka adalah sekelompok manusia yang sedang bertumbuh dan belajar dengan dunia yang terlalu banyak pembelajarannya. Sayanya mereka terlena dan bergoyang pada jalurnya yang tak sesungguhnya. Sudah sering sekali aku melihat mereka dengan benci dan sinis. Tapi aku juga sadar bahwa mereka hanya saja sedang belajar dengan mulut tajam tajam yang selalu menjadi benalu untuk orang disekitarnya. Oh ya aku lupa, mereka menjadi benalu karena disekitar mereka memang penuh benalu. Seperti kata orang orang, jika berteman dengan sipenjual parfume kamu akan kena ciprat bau parfumnnya. Tak banyak yang ingin aku benci dari mereka. Hanya kata kata saja. Sudah jelas mereka bagai Penjahat tak tahu malu. Merasa diri paling sempurna dengan menghujat orang yang tak sesuai dengan standar otak buntutnya yang buntu. Sepertinya cermin cermin dirumahnya tak ada atau hancur. Sudah jelas dari aksi konyolnya dalam mengejek sesama. Lihat saja, mereka bahkan tak tahu bahwa diri mereka seperti apa. Terkadang ada yang lebih buruk, kata kata pedas mereka bagai larutan asam yang menelan habis semangat setiap jiwa suci yang ingin berkembang di dunia. Saat ini mungkin kita boleh diam dan tetap diam mengeluarkan senyum palsu. Jika mereka teralalu melampaui batas. Kan ku hapus mereka dari daftar manusia yang berakal dalam kategori standa kemanusiaanku. Jika itu sudah terjadi, dihati ku, pikiranku, mataku, kepala dan otakku mereka bukan lagi manusia melain kan binatang. Jika mereka masih berlagak bak raja hutan dengan kata kata asam sulfatnya yang tajam standarku mendorongnya keluar. Mereka bahkab sangat tak pantas bahkan untuk dipanggil sebagai binatang.Aku memang bukan tuhan, namun tuhan(Allah) yanh menciptakanku untuk menentukan standar golongan ku dalam kehidupan. Setidaknya standarku tak sama dengan srandar mereka yang keji.

Ingin Keluar Dari Dialog Diri



 Dunia kembali mencoba menipu ku. Awalnya aku merasa senang akan kehadiran teman baik disisiku, senang akan aksi tak abal abal meraka yang selalu ada. Namun aku serasa disayat rindu, lebih perih. Aku bak mainan yang tak tau arah. Apakah mereka menipumu? Atau hanya membenci ku? Tidak ada yang mendengarkan. Aku hanya bisa berusaha. Berusaha bersuara dibalik hati yang linglug mau nangis seperti apa? Tentu saja aku ingin menangis, siapapun yang menjadiku sama seperti ku pasti akan menangis. Tak seberat itu sebenarnya masalahku. Hati ku terus meronta ronta meminta kepada atma, cobalah walau sekali saja.  Tentu saja aku merasa tak berguna, sama sekali. Aku dulu terbuai oleh kata kata manis mereka. Mereka hanya penipu.  Untung saja aku tidak jadi menilai dunia bahwa ia yang menipuku. Aku juga tak terlalu menyalahkan mereka. Itu juga haknya. Mau mendukung atau menjatuhkan atau hanya melihat saja. Jelas itu berbeda, punya topoksi masing-masing untuk berkerja. Namun manusia tentu saja berbeda beda. Tak semuanya sama, tapi tidak papa. Aku tidak mengupayakan, hanya saja aku letih dan kecewa. Selalu saja seperti ini. Hanya bisa diam dan berusaha. Jujur saja aku sangat kasihan pada dia "diriku". Jika sudah tidak di anggap masih saja mencoba bersuara. Dia " diriku" tak tahu bahwa dia sudah lelah. Lebihh baik diam dan mencari suara untuk memulihkan atma. Sudah cukup merasa disakiti. Sekarang syukuri saja dan Terima semua apa adanya. Aku percaya kau pasti bisa.. Jangan terlalu memikirkan hal yang buruk tentang dirimu. Yuk berfikiran postif saja. Walau pada hakikatnya sama saja seperti menipu diri sendiri.